Senin, 02 Juli 2012

Uang, Lembaga Keuangan, dan Kebijakan Moneter di Indonesia

I.      Definisi Uang
Apakah yang di maksud dengan uang? Menurut kamus bahasa Indonesia uang (wang: alat pembayaran yang sah, dibuat dari emas, perak, dan sebagainya. Yang di pakai sebagai ukuran nilai, harga sesuatu, upah, gaji, harta, kekayaan).
Uang dalam ilmu ekonomi tradisional didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima secara umum.  Dalam ilmu ekonomi modern, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran hutang. Beberapa ahli juga menyebutkan fungsi uang sebagai alat penunda pembayaran.
II.      Sejaran Uang
Pada zaman dahulu, manusia belum mengenal pertukaran. Sehingga manusia berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dengan usaha sendiri. Misalnya berburu ketika ia lapar, membuat pakain sendiri. Atau dengan kata lain apa yang ia peroleh itulah yang dijadikannya sebagai penopang kehidupannya. Seiring dengan perkembangan zaman, manusia merasa bahwa apa yang ia produksi sendiri sesungguhnya tidak sepenuhnya memenuhi kebutuhan hidupnya.  Sehingga timbullah pemikiran untuk mencari orang lain yang dapat di ajak untuk melakukan sebuah transaksi barang-barang yang sama-sama sedang kedua belah pihak inginkan. Atau lebih dikenal dengan istilah barter.
Namun semakin kesini dirasa semakin sulit untuk mendapatkan lawan barter tersebut. Manusia semakin sulit untuk mendapatkan barang yang diinginkan. Sehingga timbullah pemikiran untuk menggunakan benda-benda tertentu untuk digunakan sebagai alat tukar. Benda-benda yang ditetapkan sebagai alat tukar tersebut pun dapat diterima oleh umum (generally accepted). Misalnya adalah kerang.

Pada masa itu manusia sudah memiliki alat tukar, namun pada kenyataannya mereka masih saja menemui kesulitan. Kesulitannya antara lain, barang-barang yang dijadikan alat tukar tersebut belum memiliki pecahan, sehingga sulit untuk menyimpannya dan pengangkatannya pun menjadi sulit, sehingga timbullah kesulitan-kesulitan lainnya yaitu tidak  tahan lama.
Kemudian muncullah ide untuk menjadikan logam sebagai alat tukar. Logam di pilih menjadi alat tukar karena tidak mudah hancur, tidak mudah pecah, dan tahan lama. Logam yang dapat dijadikan alat tukar adalah emas/perak. Namun semakin kesini, manusia merasa semakin sulit mendapatkan emas atau perak. Karena persediaan logam mulia semakin menipis. Penggunaan uang logam pun dirasa sulit untuk transaksi dengan jumlah besar.
Sehingga pada akhirnya diciptakanlah uang kertas. Pada mulanya uang kertas digunakan sebagai bukti kepemilikan logam. Sehingga pada perkembangannya manusia tidak lagi menggunakan logam, sebagai alat tukar dan menjadikan uang kertas bukti sebagai alat transaksi.
III. Syarat Uang
Suatu benda yang dapat dijadikan sebagai uang jika benda tersebut berhasil memenuhi syarat-syarat tertentu. Adapun syarat-syarat tersebut antara lain:
ü      Di terima oleh umum (acceptability)
ü      Tahan lama (durability)
ü      Mudah di bawa (portable)
ü      Mudah di bagi tanpa mengurangi nilai (divisibiality)
ü      Memiliki nilai yang stabil dari waktu ke waktu (stability of value)

IV. Jenis Uang
Uang rupiah yang beredar di masyarakat, dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu uang kartal dan uang giral. Uang kartal itu sendiri adalah uang yang sah dan wajib di gunakan untuk transaksi di masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan uang giral adalah uang dalam bentuk simpanan (deposito). Tidak semua orang memiliki uang jenis ini.

Menurut bahan pembuatannya
1.      Uang Logam

Uang yang berbentuk logam. Biasanya terbuat dari emas/perak. Uang logam memiliki tiga macam nilai, yaitu:
a.      Nilai Intrinsik
Yaitu nilai bahan untuk membuat uang.
b.      Nilai Nominal
Yaitu nilai yang tertera pada mata uang.
c.      Nilai Tukar
Yaitu kemampuan uang untuk ditukar dengan barang.

2.                  Uang Kertas

Uang kertas adalah uang yang terbuat dari kertas dengan gambar dan cap tertentu dan merupakan alat pembayaran yang sah. Menurut penjelasan UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia yang dimaksud dengan uang kertas adalah uang dalam bentuk lembaran yang terbuat dari bahan kertas atau bahan lainnya (yang menyerupai kertas).
Menurut Nilainya
1.      Uang Penuh
Uang dikatakan memiliki nilai yang penuh apabila nilai yang tertera pada uang tersebut sama nilainya dengan bahan yang digunakan. Atau dapat dikatakan nilai nominal = nilai intrinsik.
2.      Uang Tanda
Yang dimaksud uang tanda yaitu apabila nilai yang tertera dalam uang lebih tinggi daripada nilai bahan yang di gunakan dalam membuat uang tersebut.



Uang Dalam Ekonomi
Uang merupakan pokok penting dalam pembelajaran ekonomi. Sedangkan Lembaga keuangan adalah badan usaha yang mengumpulkan asset dalam bentuk dana dari masyarakat dan disalurkan untuk pendanaan proyek pembangunan serta kegiatan ekonomi dengan memperoleh hasil dalam bentuk bunga sebesar prosentase tertentu dari besarnya dana yang disalurkan.Kebijakan Moneter adalah suatu usaha dalam mengendalikan keadaan ekonomi makro agar dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan melalui pengaturan jumlah uang yang beredar dalam perekonomian. Usaha tersebut dilakukan agar terjadi kestabilan harga dan inflasi serta terjadinya peningkatan output keseimbangan.
Pengaturan jumlah uang yang beredar pada masyarakat diatur dengan cara menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan moneter dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :
1. Kebijakan Moneter Ekspansif / Monetary Expansive Policy
Adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang beredar.
2. Kebijakan Moneter Kontraktif / Monetary Contractive Policy
Adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang edar. Disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money policy).
Kebijakan moneter dapat dilakukan dengan menjalankan instrumen kebijakan moneter, yaitu antara lain :
1.      Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation)
Operasi pasar terbuka adalah cara mengendalikan uang yang beredar dengan menjual atau membeli surat berharga pemerintah (government securities).
2.      Fasilitas Diskonto (Discount Rate)
Fasilitas diskonto adalah pengaturan jumlah duit yang beredar dengan memainkan tingkat bunga bank sentral pada bank umum.
3.      Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio)
Rasio cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan memainkan jumlah dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah.
4.      Himbauan Moral (Moral Persuasion)
Himbauan moral adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan jalan memberi imbauan kepada pelaku ekonomi.

Dan dalam perkembangannya terjadilah suatu krisis yang disebut dengan krisis moneter. Krisis moneter ini sendiri memiliki dampak atau efek yang sangat besar bagi stabilitas perekonomian suatu Negara. Salah satu dampak krisis moneter adalah turunnya nilai mata uang. Sehingga masyarakat lebih memilih untuk melakukan barter sebagai cara transaksi. Hal ini pun pernah terjadi di Rusia, pada saat keruntuhan Uni Soviet.

Sumber:










Kamis, 03 Mei 2012

PEMBANGUNAN EKONOMI DI INDONESIA




Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara dan pemerataan pendapatan bagi penduduk suatu negara.
Pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi (economic growth); pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan ekonomi.
Yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Suatu negara dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi apabila terjadi peningkatan GNP riil di negara tersebut. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi.
Perbedaan antara keduanya adalah pertumbuhan ekonomi keberhasilannya lebih bersifat kuantitatif, yaitu adanya kenaikan dalam standar pendapatan dan tingkat output produksi yang dihasilkan, sedangkan pembangunan ekonomi lebih bersifat kualitatif, bukan hanya pertambahan produksi, tetapi juga terdapat perubahan-perubahan dalam struktur produksi dan alokasi input pada berbagai sektor perekonomian seperti dalam lembagapengetahuansosial dan teknik.
Selanjutnya pembangunan ekonomi diartikan sebagai suatu proses yang menyebabkan pendapatan perkapita penduduk meningkat dalam jangka panjang. Di sini terdapat tiga elemen penting yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi, yaitu:
·        Pembangunan sebagai suatu proses
·        Pembangunan sebagai suatu usaha untuk meningkatkan pendapatan perkapita
·        Peningkatan pendapatan perkapita harus berlangsung dalam jangka panjang
Ada beberapa faktor yang memengaruhi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi, namun pada hakikatnya faktor-faktor tersebut dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu faktor ekonomi dan faktor non ekonomi.
Faktor ekonomi yang memengaruhi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi diantaranya adalah sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya modal, dan keahlian atau kewirausahaan.
Faktor nonekonomi mencakup kondisi sosial kultur yang ada di masyarakat, keadaan politik, kelembagaan, dan sistem yang berkembang dan berlaku.
Perbedaan Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi
·        Merupakan proses naiknya produk per kapita dalam jangka panjang.
·        Tidak memperhatikan pemerataan pendapatan.
·        Tidak memperhatikan pertambahan penduduk
·        Belum tentu dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.
·        Pertumbuhan ekonomi belum tentu disertai dengan pembangunan ekonomi
·        Setiap input dapat menghasilkan output yang lebih banyak

Pembangunan ekonomi
·        Merupakan proses perubahan yang terus menerus menuju perbaikan termasuk usaha meningkatkan produk per kapita.
·        Memperhatikan pemerataan pendapatan termasuk pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya.
·        Memperhatikan pertambahan penduduk.
·        Meningkatkan taraf hidup masyarakat.
·        Pembangunan ekonomi selalu dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi.
·        Setiap input selain menghasilkan output yang lebih banyak juga terjadi perubahan – perubahan kelembagaan dan pengetahuan teknik.

Menurut saya, semakin tahun tingkat pendapatan perkapita di Indonesia semakin meningkat. Hal itu di dukung dengan kualitas sumber daya manusia yang lebih baik dari tahun ke tahun. Di dukung pula oleh perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia. Yang mana sekarang telah di adakan program BOS (Biaya Operasional Sekolah), yang mana ini secara tidak langsung telah membantu masyarakat dari kalangan tidak mampu untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Selain itu grafik tingkat kelulusan di Indonesia pun semakin berkembang keatas.
Dengan terciptanya masyarakat yang cerdas , maka akan tercipta pula banyak lapangan pekerjaan. Sekarang – sekarang ini pun banyak sekali masyarakat yang memanfaatkan skill nya untuk mengolah limbah menjadi barang berguna. Dan dengan adanya skill tersebut, maka Industri rumahan (home industry) telah menjamur di Indonesia. Sisi positif dari industri rumahan ini, adalah terciptanya lapangan pekerjaan baru. Dan jelas ini telah membantu mengembangkan ekonomi di Indonesia.
Ketika bapak SBY menjabat sebagai presiden, pada tahun 2004 pertumbuhan ekonomi meningkat pesat menjadi 5.1 %. Dan pada tahun 2008 di proyeksikan sebesar 6.4%. cadangan devisa yang semula 33.8 milyar dolar AS, pada tahun 2008 meningkat menjadi 69.1%.
Tingkat kemiskinan pun berkurang. Pada tahun 1998 angka kemiskinan mencapai 24.2%. namun pada masa jabatan Bapak SBY tingkat kemiskinan menurun menjadi 16.7%
Hutang kepada Dana Moneter Internasional (IMF) juga dipangkas habis pada masa jabatan SBY. Pada tahun 1998 hutang Negara kepada IMF sebesar 9.1 milyar dolar AS. Dan pada tahun 2006, presiden SBY berhasil melunasi hutang Negara sebesar 7.8 milyar dolar AS.
Maka, dapat disimpulkan bahwa tingkat pembangunan ekonomi di Indonesia telah mengalami kemajuan yang signifikan tiap tahunnya. Berikut ini adalah data mengenai laju pembangunan Indonesia selama 10 tahun terakhir.









Senin, 30 April 2012

IRONI PENDIDIKAN DI INDONESIA

Apabila kita amati pendidikan di Indonesia, maka kita akan tercengang. Mengapa demikian? Hal itu disebabkan karena buruknya kualitas pendidikan di Indonesia. Contoh kecil, bisa kita lihat perbedaan yang mencolok antara kualitas pendidikan di pedesaan dengan kualitas pendidikan di perkotaan.
Pendidikan di pedesaan cendurung masih rendah kualitasnya. Hal itu bisa tercermin pada minimnya sarana dan prasarana. Seperti, bangunan sekolah yang sudah rapuh dan tak layak huni, minimnya ketersediaan bangku dan masih banyak lagi. Selain itu masih banyak pula sekolah yang status kepemilikannya belum diakui.
Sementara di perkotaan, fasiltas pendidikan sudah tergolong lebih baik dari pada di pedesaan. Sebagian besar sekolah yang ada di perkotaan, sudah memiliki bangunan sendiri yang layak untuk ditempati, sudah memiliki fasilitas pendidikan yang memadai.
Kualitas pendidikan di Indonesia amat memperhatikan, ini dapat dilihat dari data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke- 105 (1998), dan ke-109 (1999).
Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survei dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.Memasuki abad ke- 21 dunia pendidikan di Indonesiamenjadi heboh. Kehebohan tersebut bukan disebabkan oleh kehebatan mutu pendidikan nasional tetapi lebih banyak disebabkan karena kesadaran akan bahaya keterbelakangan pendidikan diIndonesia. Permasalahan ini disebabkan karena beberapa hal yang mendasar. Salah satunya adalah memasuki abad ke- 21 gelombang globalisasi dirasakan kuat dan terbuka.
Kendatipun pemerimtah telah mengotiamlkan anggaran pendidikan, namun masih banyak sekali PR yang mesti pemerintah kerjakan. Karena anggaran tersebut dirasa masih kurang untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Hal itu dapat kita lihat dari permasalahan-permasalahan yang terjadi pada pendidikan di Indonesia, seperti
1.    Rendahnya Kualitas Sarana Fisik
Seperti yang telah diuraikan diatas, banyak sekali sekolah sekolah di Indonesia yang masih tergolong buruk. Masih banyak bangunan yang tidak layak pakai. Bahkan dibeberapa sekolah mesti rela belajar tanpa atap atau tanpa bangku. Banyak pula sekolah yang belum memiliki perpustakaan. Selain itu, untuk beberapa daerah, masih sedikit jumlah sekolah yang tersedia. Sehingga mereka (siswa) mesti rela untuk berjalan berkilo-kilo meter.
Data Balitbang Depdiknas (2003) menyebutkan untuk satuan SD terdapat 146.052 lembaga yang menampung 25.918.898 siswa serta memiliki 865.258 ruang kelas. Dari seluruh ruang kelas tersebut sebanyak 364.440 atau 42,12% berkondisi baik, 299.581 atau 34,62% mengalami kerusakan ringan dan sebanyak 201.237 atau 23,26% mengalami kerusakan berat. Kalau kondisi MI diperhitungkan angka kerusakannya lebih tinggi karena kondisi MI lebih buruk daripada SD pada umumnya. Keadaan ini juga terjadi di SMP, MTS, SMA, MA, dan SMK meskipun dengan persentase yang tidak sama.
2.    Rendahnya Kualitas Pengajar
Kualitas pengajar yang rendah juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Masih banyak sekali pengajar yang statusnya masih sebagai pengajar honorer. Hal ini mungkin menjadi salah satu alasan pengajar tersebut menjadi enggan untuk mengajar.
Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar. Persentase guru menurut kelayakan mengajar dalam tahun 2002-2003 di berbagai satuan pendidikan sbb: untuk SD yang layak mengajar hanya 21,07% (negeri) dan 28,94% (swasta), untuk SMP 54,12% (negeri) dan 60,99% (swasta), untuk SMA 65,29% (negeri) dan 64,73% (swasta), serta untuk SMK yang layak mengajar 55,49% (negeri) dan 58,26% (swasta).
3.    Rendahnya Prestasi Siswa
Di sisi lain, minat belajar siswa pun semakin menurun. Banyak diantara mereka yang belajar hanya jika akan ujian. Menyontek pun sudah menjadi budaya di Indonesia. Hal ini menjadi penyebab siswa menjadi malas belajar.
Kecanggihan teknologi pun membawa dampak buruk. Seperti, terciptanya game online. Sebagian dari anak-anak Indonesia lebih memilih untuk menghabiskan waktu untuk bermain game-online dari pada belajar.
Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004), siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains. Dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.
4.    Mahalnya Biaya Pendidikan
Sekalipun pemerintah telah mengalokasikan beberapa persen APN  untuk biaya pendidikan, namun namun hal tersebut masih belum bisa menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia. Masih banyak rakyat Indonesia yang menganggap biaya pendidikan di negeri kita masih tergolong mahal. 
Sehingga masih banyak masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan secara layak. Tingkat buta huruf pun masih tergolong banyak.  Hal ini tentu menjadi pr kita semua. Bagaimana caranya supaya seluruh warga Indonesia dapat mengenyam pendidikan wajib 9 tahun. Atau bahkan hingga ke Perguruan Tinggi.
Biaya pendidikan yang terjangkau menjadi salah satu faktor yang dapat memajukan kualitas pendidikan di Indonesia. Karena dengan biaya yang terjangkau, tingkat masyarakat yang berpendidikan pun akan meningkat pula. Sehingga dengan demikian masyarakat Indonesia dapat berkembang menjadi masyarakat yang cerdas, yang dapat memajukan kesejahteraannya sendiri, juga kesejahteraan masyarakat luas.
Persentase Kelulusan
Angka kelulusan ujian nasional (UN) di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih paling rendah di Indonesia. Untuk tingkat SMA/MA, NTT menempati peringkat pertama untuk jumlah ketidaklulusan siswa, yaitu 1.813 (5,57%) dari total peserta 32.532. Di tingkat SMK, NTT menempati peringkat keempat angka ketidaklulusan siswa, yaitu 450 (3,56%) dari total peserta 12.624.

Secara nasional, total siswa yang tidak lulus dalam UN 2011 mencapai 16.098, sedangkan siswa yang lulus 1.450.498. Jumlah ketidaklulusan siswa itu terdiri dari siswa SMA/MA sebanyak 11.443 (0,78%) dan siswa SMK 4.655 (0,49%). UN kali ini diikuti 1.461.941 peserta SMA/MA dari 16.835 sekolah, dan 942.698 peserta SMK dari 8.074 sekolah.
Angka ketidaklulusan UN SMA/MA juga cukup tinggi terjadi di Bangka Belitung, yaitu 250 (4,14%) dari 6.035 peserta, Kalimantan Tengah 595 (4%) dari 14.880 peserta, Papua 430 (3,28%) dari 13.090 peserta, dan Aceh 1.701 (3,19%) dari 53.387 peserta. Untuk DKI Jakarta angka ketidaklulusan mencapai 271 (0,48%) dari 55.938 peserta.

Solusi dari permasalahan pendidikan di Indonesia
Menurut pendapat saya, solusi utama dari permasalahan pendidikan di Indonesia adalah dari diri kita sendiri. Karena belajar tidak harus berada di dalam ruangan. Setiap waktu adalah belajar. Masyarakat Indonesia, mesti berkembang menjadi masyarakat yang cerdas. Memperbanyak membaca, atau memperbanyak menggali informasi dapat menjadikan kita orang yang cerdas dengan sendirinya.
Kemudian, hal lain yang dapat menjadi solusi pendidikan di Indonesia adalah dengan di tambahnya alokasi dana untuk pendidikan. Karena dengan begitu, kita dapat memperbaiki sarana dan prasarana sekolah-sekolah di Indonesia. Pemerintah pun dapat menyejahterakan guru-guru di Indonesia.  Kemudian pemerintah perlu meningkatkan standarisasi kelulusan. Dengan begitu siswa menjadi terpacu untuk belajar sungguh-sungguh. Demikan solusi menurut pandangan saya. Semoga bermanfaat untuk pembaca.

Sumber :
http://skyrider27.blogspot.com/2009/11/pendidikan-di-indonesia.html

Sabtu, 21 April 2012

PENDAPATAN NASIONAL



Pendapatan nasional dapat dilihat dengan tiga pendekatan, yaitu pendekatan nilai produksi, pendekatan pengeluaran, dan pendekatan pendapatan. Ketiga pendekatan itu akan menghasilkan jumlah pendapatan nasional yang sama besar. Karena ada tiga macam pendekatan dalam melihat pendapatan nasional, maka pendapatan nasional memiliki tiga arti.

Jadi, Pendapatan Nasional adalah :
1. Nilai semua barang dan jasa (output) yang dihasilkan suatu negara selama satu tahun.
2. Jumlah semua pengeluaran yang terjadi pada suatu negara untuk membeli barang dan jasa selama satu tahun.
3. Jumlah semua pendapatan yang diterima pemilik faktor produksi sebagai balas jasa penggunaan faktor-faktor produksi pada suatu negara selama satu tahun.

Macam-Macam Pendapatan Nasional
Pendapatan nasional dapat digolongkan menjadi :

1. Produk Domestik Bruto
Produk Domestik Bruto disebut juga dengan istilah Gross Domestic Product (GDP). Produk Domestik Bruto adalah jumlah nilai barang dan jasa yang dihasilkan seluruh masyarakat di suatu negara selama satu tahun, termasuk barang dan jasa yang dihasilkan warga negara asing yang ada di wilayah negara tersebut. Sementara itu, barang dan jasa yang dihasilkan perusahaan atau warga negara tersebut yang berada di luar negeri tidak dihitung ke dalam Produk Domestik Bruto.
Jadi, Produk Domestik Bruto hanya menunjukkan jumlah barang dan jasa yang diproduksi di dalam wilayah suatu negara. Produk Domestik Bruto masih disebut bruto (kotor) karena belum dikurangi dengan penyusutan.


2. Produk Nasional Bruto
Produk Nasional Bruto disebut juga dengan istilah Gross National Product (GNP). Produk Nasional Bruto adalah jumlah nilai barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat suatu negara selama satu tahun, termasuk barang dan jasa yang dihasilkan masyarakat negara tersebut yang berada di Negara lain.

Sedangkan barang dan jasa yang dihasilkan warga negara asing yang berada di wilayah negara tersebut tidak dihitung ke dalam Produk Nasional Bruto.

Produk Nasional Bruto atau GNP dapat juga dihitung dengan rumus sebagai berikut:
GNP = GDP + Pendapatan Faktor Neto dari Luar Negeri


3. Produk Nasional Neto
Produk Nasional Neto disebut juga dengan istilah Net National Product (NNP). Produk Nasional Neto adalah jumlah nilai barang dan jasa yang diperoleh dengan cara mengurangi GNP dengan penyusutan (depresiasi).

Produk Nasional Neto dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
NNP = GNP – Penyusutan

4. Pendapatan Nasional Neto
Pendapatan Nasional Neto disebut juga dengan istilah Net National Income (NNI). Pendapatan Nasional Neto adalah jumlah seluruh pendapatan yang diterima masyarakat sebagai balas jasa faktor produksi selama satu tahun setelah dikurangi pajak tidak langsung (indirect tax).

Besarnya Pendapatan Nasional Neto (NNI) diperoleh dari NNP dikurangi pajak tidak langsung yang dirumuskan sebagai berikut:
NNI = NNP - Pajak tidak langsung

5. Pendapatan Perseorangan
Pendapatan perseorangan disebut juga dengan istilah Personal Income (PI). Pendapatan Perseorangan adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap orang dalam masyarakat.
Tidak semua Pendapatan Nasional Neto atau Net National Income (NNI) akan sampai ke tangan setiap orang dalam masyarakat. Akan tetapi, NNI harus dikurangi dulu oleh iuran asuransi, iuran jaminan sosial, laba ditahan, pajak perseorangan dan ditambah dengan transferpayment (pembayaran pindahan).

Dengan demikian, pendapatan perseorangan (PI) dapat dirumuskan sebagai berikut:
PI = NNI - (Iuran asuransi, iuran jaminan sosial, laba ditahan, pajak perseorangan) + Transfer Payment

6. Pendapatan Bebas
Pendapatan bebas disebut juga Disposible Income (DI). Pendapatan Bebas adalah pendapatan yang sudah menjadi hak mutlak bagi penerimanya. Jadi, pendapatan bebas adalah pendapatan yang sudah siap untuk dibelanjakan.

Pendapatan bebas diperoleh dengan cara mengurangi PI dengan pajak langsung.
DI = PI - Pajak Langsung.

Adapun cara perhitungan pendapatan nasional, yaitu:

a.    Metode Produksi
Pendapatan nasional merupakan penjumlahan dari seluruh nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh seluruh sector ekonomi masyarakat dalam periode tertentu.
Menjumlahkan nilai produksi yang dihasilkan oleh sector-2 produksi. Menjumlahkan nilai tambah (VA) dari masing-masing sector produksi. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Simon Kuznet dan ia mendapat nobel karenanya.
Y = [(Q1 X P1) + (Q2 X P2) + (Qn X Pn) ……]

            Contoh perhitungan:
Satu sector harga Rp.100 produksi sebanyak 10, sector 2 Rp. 400 produksi, sector 3 Rp. 500 produksi 10. Maka:
Y = (100*10) + (400*5) + (500*10) = 1000 + 2000 + 5000 = 8000

b.    Metode Pendapatan
Pendapatan nasional merupakan hasil penjumlahan dari seluruh penerimaan (rent, wage, interest, profit) yang diterima oleh pemilik factor produksi adalam suatu negara selama satu periode.
Menjumlahkan semua pendapatan dari faktor-faktor produksi (TK, modal, tanah, dan skill), bila TK menghasilkan upah = w, modal menghasilkan bunga = i, tanah menghasilkan sewa = r, dan skill menghasilkan profit = p, maka NI=ss
Y = r + w + i + p




c.    Metode Pengeluaran
Pendapatan nasional merupakan penjumlahan dari seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh seluruh rumah tangga ekonomi (RTK,RTP,RTG,RT Luar Negeri) dalam suatu Negara selama satu tahun.
Y = C + I + G + (X – M)

 


SUMBER:



Jumat, 23 Maret 2012

BIAYA PRODUKSI

Biaya merupakan salah satu kunci keberhasilan perusahaan dalam menjalankan usahanya. Hal ini disebabkan biaya sangat menentukan keuntungan yang akan diperoleh perusahaan. Biaya adalah semua pengeluaran yang dapat diukur dengan uang, baik yang telah, sedang maupun yang akan dikeluarkan untuk menghasilkan suatu produk.

PENGELOMPOKKAN BIAYA
Menurut keterlibatan biaya dalam pembuatan produk :
Biaya bahan langsung = biaya yang timbul dari pemakaian semua bahan-bahan yang menjadi bagian dari produk jadi.
Biaya buruh langsung = biaya yang dikeluarkan untuk pekerja yang ikut terlibat dalam kegiatan proses produksi.
Biaya tak langsung pabrik = biaya yang terjadi dipabrik. Biaya ini terdiri dari :
Biaya bahan tak langsung = biaya dari semua bahan-bahan yang tidak menjadi bagian dari suatu produk, tetapi diperlukan dalam pengolahan bahan menjadi barag. Contoh : pengelasan pada pembuatan mobil
Biaya buruh tak lansung = biaya yang dikeluarkan untuk pekerja yang ada dipabrik, tetapi tidak langsung dalam proses pembuatan suatu produk. Contoh : gaji untuk pekerja bagian perawatan mesin.
Biaya komersial = biaya tak langsung yang tidak terjadi di pabrik.
Biaya ini terdiri dari :
Biaya penjualan = pengeluaran yang dilakukan dalam rangka kegiatan penjualan suatu produk
Biaya administrasi = pengeluaran yang dilakukan untuk mendukung kegiatan-kegiatan pabrik.
Menurut perubahan dalam volume produksi
Biaya tetap : biaya yang tidak tergantung pada volume produksi
Biaya variabel : biaya yang berubah sebanding dengan perubahan volume produksi




BIAYA PRODUKSI
Biaya produksi adalah semua pengeluaran perusahaan untuk memperoleh faktor-faktor produksi yang akan digunakan untuk menghasilkan barang-barang produksi oleh perusahaan tersebut.

Cara penentuan biaya pembuatan produk :
Biaya historis : yaitu penentuan biaya produk dengan mengumpulkan semua biaya yang telah terjadi dan diperhitungkan setelah operasi pembuatan produk selesai
Biaya sebelum pembuatan : suatu cara penentuan biaya pembuatan produk sebelum produk tersebut dibuat.
Biaya ini terbagi atas :
Biaya anggaran : berdasarkan kegiatan masa lalu dan perkiraan kegiatan pada masa yang direncanakan.
Biaya standar : berdasarkan standar-standar pelaksanaan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Harga pokok standar : harga pokok yang telah ditentukan sebelum proses produksi dilaksanakan.
Tujuannya adalah :
Pengendalian biaya dan jika memungkinkan menguranginya.
Pengukuran efesiensi
Penyederhanaan prosedur pembiayaan
Penilaian persediaan
Penentuan harga jul.

Cara penentuan biaya standar :
Berdasarkan rata-rata biaya yang terjadi pada masa lalu
Berdasarkan biaya terendah yang terjadi pada masa lalu
Berdasarkan biaya yang berasal dari anggaran pada suatu kondisi operasi yang normal
Berdasarkan biaya ideal yang terjadi pada efesiensi maksimum
Berdasarkan biaya yang dapat dicapai pada kondisi operasi yang baik. 
Dari segi sifat biaya dalam hubungannya dengan tingkat output, biaya produksi dapat dibagi ke dalam:
Biaya Total ( Total Cost = TC) . Biaya total adalah keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produksi.
TC = TFC + TVC
Dimana TFC = total fixed cost; dan TVC = total variable cost.
Biaya Tetap Total (total fixed cost = TFC). Biaya tetap total adalah keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh faktor produksi yang tidak dapat berubah jumlahnya. Sebagai contoh : biaya pembelian mesin, membangun bangunan pabrik, membangun prasarana jalan menuju pabrik, dan sebagainya.
-  Biaya Variabel Total (total variable cost = TVC). Biaya variabel total adalah keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh faktor produksi variabel. Contoh biaya variabel : upah tenaga kerja, biaya pembelian bahan baku, pembelian bahan bakar mesin, dan sebagainya.
- Biaya Tetap Rata-Rata (Average Fixed Cost = AFC). Biaya tetap rata- rata adalah biaya tetap total dibagi dengan jumlah produksi.TFC AFC = ------- ( di mana Q = tingkat output)Q
- Biaya Variabel Rata-Rata ( Average Variable Cost = AVC). Biaya variabel rata-rata  dalah biaya variabel total dibagi dengan jumlah produksi.TVC AVC = --------Q
- Biaya Total Rata-Rata ( Average Total Cost = AC). Biaya total rata-rata adalah biaya total dibagi dengan jumlah produksi.T C AC = --------- atau AC = AFC + AVC.
 - Biaya Marginal ( Marginal Cost =MC). Biaya marginal adalah tambahan biayaproduksi yang digunakan untuk menambah produksi satu unit.
DTC
MC = ---------DQ
KURVA BIAYA PRODUKSI
Kurva biaya produksi adalah kurva yang menunjukkan hubungan antara jumlah biaya produksi yang dipergunakan dan jumlah produk yang dihasilkan. Pada umumnya biaya produksi ditunjukkan oleh sumbu vertikal dan jumlah produk oleh sumbu horizontal. Berikut ini adalah bentuk kurvanya:
Biaya Tetap Total (TFC)
Biaya Tetap Total (TFC)














Biaya tetap total (TFC) dilukiskan sebagai garis lurus (horizontal) sejajar dengan sumbu kuantitas. Hal ini menunjukkan bahwa berapapun jumlah out­put yang dihasilkan, besarnya biaya tetap total (TFC) tidak berubah yaitu sebesar n.
Biaya Variabel Total (TVC)

    












·        Biaya variabel total (TVC) adalah biaya yang besar kecilnya mengikuti banyak sedikitnya output yang dihasilkan. Gambar yang menunjukkan bahwa kurva biaya variabel total terus menerus naik. Jadi semakin banyak output yang dihasilkan maka biaya variabel akan semakin tinggi.
·    Misalnya adalah pengeluaran untuk pembelian bahan baku. Semakin banyak barang yang dihasilkan, maka semakin besar pula pengeluaran untuk pembelian bahan baku. Namun demikian laju peningkatan biaya tersebut berbeda-beda (tidak konstan ) . Laju peningkatan mula-mula dari titik asal adalah menurun hingga titik A. Pada titik A ini tidak terjadi peningkatan sama sekali. Kemudian sesudah titik A laju kenaikannya terus menerus naik. 
Biaya Total Cost (TC)














Jika antara biaya tetap dan biaya variabel dijumlahkan, maka hasilnya disebut biaya total (TC). Jadi, TC = TFC + TVC. Total Cost (TC) berada pada jarak vertikal di semua titik antara biaya tetap total (TFC) dan biaya berubah total (TVC), yaitu sebesar n.


Sumber: