"Jakarta kota ku indah dan megah. Di situ lah aku di lahirkan" ya kurang lebihnya begitulah penggalan lagunya. Apa iya Jakarta kota yang indah dan megah? Hayooo... Menurut saya, Jakarta sih indah. Liat aja kawasan MH Thamrin, Rasuna Said, Sudirman, banyak gedung pencakar langit meeeeeennnn. Saya aja bingung kok bisa ya manusia ngebangun gedung setinggi dan seapik itu. Ya begitu lah pemikiran anak kampung seperti saya. Apalagi kalau malam, lampu-lampu di Jakarta udah kayak tempat rekreasi. Kereennnn!!!
Tapiii......................
Macetnya itu loh. WOOW BANGET!!! Kalau bahasanya anak sekarang mah "gue tua di jalan nih coy". Terus kalau begini siapa yang harus di salahin? Bingung ya???? Ngga usah bingung lah. Kita berfikir simpel aja. Kalau terlalu serius nanti cepet tua.
Siapa sih di Jakarta yang ngga pernah ngerasain macet? Siapa sih di Jakarta yang ngga pernah ngeluh macet? Ya Petinggi negara lah jawabannya. Asik ya jadi pejabar negara, kemana-mana ngga macet. kemana-mana di kawal.
Tentu ini sangat kontras dengan kaum biasa kayak kita. Macet mungkin udah jadi makanan sehari-hari kita. Setuju? Udah setuju aja biar cepet.
Coba di fikir lagi, sebenernya yang bikin macet tuh siapa? sebenernya yang bikin macet tuh apa? Menurut saya sih yang bikin macet ya kita-kita juga (pengguna jalan). Coba masing-masing menghitung di rumah punya berapa kendaraan? 1? 2? 4? 6?
Salah satu hal yang bikin Jakarta macet itu adalah jumlah kendaraan yang tidak sebanding dengan besarnya jalan. Disini saya tidak akan membahas soal produksi kendaraan. Tapi saya akan membahas tentang kesadaran kita sebagai warga Jakarta.
Coba aja kita dengar harapan warga Jakarta soal CaGub kita. Pasti mereka berharap kemacetan di Jakarta bisa berkurang. Betul? Menurut saya, program kerja CaGub CaWaGub tidak akan berjalan mulus kalau kita (warganya) tidak berpartisipasi.
Mudah saja caranya. Kurangi pemakaian kendaraan pribadi, dan cobalah menggunakan kendaraan umum. Selain bisa memberikan masukan kepada para supir angkot / lainnya. Kita juga bisa menghemat pemakaian BBM di Jakarta. Apalagi sempat ada wacana kalau premium sudah langka.
Mungkin kita bisa bercermin dari negara tetangga. Kaya / miskin. Tua / muda, tidak malu untuk menggunakan transportasi umum. Salah satu penyebab mereka memilih tidak membeli/tidak menggunakan kendaraan pribadi adalah karena biaya kendaraan dan pajak kendaraan yang relatif tinggi.
Jadi buat warga Jakarta yang suka mengeluh macet. Udah saatnya kita beralih ke kendaraan umum. Ya tentu dengan catatan sarana, prasarana, dan keamanan kendaraan umum tersebut mesti lebih di tingkatkan lagi.
God Bless You JAKARTA.......................................:)
Minggu, 30 September 2012
MENGAPA PENYESALAN SELALU DATANG BELAKANGAN?
Mungkin kalimat "mengapa penyesalan selalu datang belakangan?" sering sekali muncul di benak kita. Mungkin kita sering sekali bertanya seperti itu tanpa mencari tau jawabannya.
Kadang manusia berfikir, Tuhan tidak adil. Kalau Tuhan itu Maha Adil, Tuhan tidak mungkin membuat saya menyesal seperti ini. Tapi menurut saya, Tuhan itu benar-benar Maha adil. Tuhan tidak mungkin membiarkan hamba-Nya berlarut-larut dalam rasa penyesalan. Tuhan tentu tidak akan membiarkan hamba-Nya berjalan seorang diri. Tuhan memberikan kita rasa penyesalan agar kita mau belajar. Agar kita senantiasa selalu mengingat-Nya.
Sungguh Tuhan itu benar-benar Maha adil. Ia pun telah memberikan rasa syukur kepada kita. Yang tanpa kita sadari rasa syukur itu pun datangnya selalu belakangan. Apa pernah kita berfikir mengapa rasa syukur datangnya selalu belakangan? Saya yakin jarang sekali orang yang berfikir seperti ini. Tuhan menciptakan rasa syukur supaya manusia menjadi lebih taat, dan patuh kepada-Nya.
Menurut saya, syukur dan penyesalan adalah satu paket yang datangnya selalu belakangan. Tuhan menciptakan kedua rasa tersebut dengan tujuan yang mulia. Agar manusia mau belajar. Belajar bersyukur atas nikmat yang telah Tuhan limpahkan. Dan belajar bersabar atas penyesalan yang telah Tuhan kehendaki.
Lantas mengapa kita masih berfikir Tuhan itu tidak adil? :)
Kadang manusia berfikir, Tuhan tidak adil. Kalau Tuhan itu Maha Adil, Tuhan tidak mungkin membuat saya menyesal seperti ini. Tapi menurut saya, Tuhan itu benar-benar Maha adil. Tuhan tidak mungkin membiarkan hamba-Nya berlarut-larut dalam rasa penyesalan. Tuhan tentu tidak akan membiarkan hamba-Nya berjalan seorang diri. Tuhan memberikan kita rasa penyesalan agar kita mau belajar. Agar kita senantiasa selalu mengingat-Nya.
Sungguh Tuhan itu benar-benar Maha adil. Ia pun telah memberikan rasa syukur kepada kita. Yang tanpa kita sadari rasa syukur itu pun datangnya selalu belakangan. Apa pernah kita berfikir mengapa rasa syukur datangnya selalu belakangan? Saya yakin jarang sekali orang yang berfikir seperti ini. Tuhan menciptakan rasa syukur supaya manusia menjadi lebih taat, dan patuh kepada-Nya.
Menurut saya, syukur dan penyesalan adalah satu paket yang datangnya selalu belakangan. Tuhan menciptakan kedua rasa tersebut dengan tujuan yang mulia. Agar manusia mau belajar. Belajar bersyukur atas nikmat yang telah Tuhan limpahkan. Dan belajar bersabar atas penyesalan yang telah Tuhan kehendaki.
Lantas mengapa kita masih berfikir Tuhan itu tidak adil? :)
Selasa, 18 September 2012
HIDUP BERPRESTASI?
HIDUP. Sebuah kata yang simpel, namun bila di telaah memiliki arti yang cukup kompleks. Apa sih hidup itu sebenarnya? Menurut kamus bahasa Indonesia, hidup adalah masih terus ada; bergerak sebagaimana mestinya; masih tetap ada; tidak sunyi; tidak mati. Ya begitu lah begitulah hidup dalam arti yang sempit. Lantas timbul pertanyaan di dalam hati saya, "hidup seperti apa sih yang sebenarnya saya harapkan?".Hidup bukan perkara bernyawa. Bukan perkara kenyang. Bukan perkara kaya. Bukan perkara miskin. Tetapi hidup adalah PRESTASI. Ya, menurut saya hidup adalah prestasi. Setinggi apa prestasi yang kita miliki?
Tentu bukan hanya prestasi akademik. Tetapi prestasi kehidupan. Setinggi apa dan seberapa banyak prestasi yang sudah kita ukir? Apa kita sudah berprestasi di mata Tuhan?? Apa kita sudah berprestasi dimata kedua orang tua kita? Ini yang selama ini saya renungkan.
Apa kita sudah benar-benar berprestasi dimata Tuhan? Tuhan, kekasih yang paling setia bagi umat-Nya. Tuhan pendengar yang paling baik. Tuhan pengampun yang baik. Tuhan begitu tulus mencintai kita. Tapi kita? Kita masih sering lalai. Kita masih sering malas. Selalu banyak alasan. Selalu banyak godaan yang membuat kita menjadi lalai. Ibu ku selalu bilang, "Tuhan tidak akan pernah meninggalkan mu nak. Maka, jangan sekali-kali kamu meninggalkan Tuhan". Tapi maafkan kami, Tuhan. Kami masih terlampau jauh dari-Mu. Bimbinglah kami Tuhan, agar kami senantiasa dekat dengan-Mu.
Apakah kita sudah berprestasi dimata kedua orang tua? Belum. Apa bisa di anggap berprestasi apabila kita masih kurang sopan dan kurang santun terhadap kedua orang tua kita? Apa bisa di anggap berprestasi apabila kita masih suka berbohong kepada orang tua kita? Tentu tidak. Kita masih sering mengeluh 'aduh bu/pak aku bosan. aku butuh penyegaran otak'. Coba di ingat apa pernah kedua orang tua kita mengeluh seperti itu? Sedikitpun tidak. Padahal beliau banting tulang demi anak-anaknya.
Apa kita sudah berprestasi dimata lingkungan? Bertegur sapa dengan sesama saja, jarang. Kita mungkin sering bertegur sapa, namun hanya melalui jejaring sosial. Terkadang, kecanggihan teknologi membuat kita tidak peka terhadap lingkungan. Setuju?
Inilah yang mesti kita fikirkan. Hidup bergelimang harta, hidup dengan jabatan tinggi tidak menjadikan kita berprestasi. Masih banyak prestasi yang bisa kita raih. Semoga Tuhan senantiasa mengulurkan tangan ghaib-Nya. Semoga Tuhan senantiasa memeluk kita dengan kasih-Nya.
Tentu bukan hanya prestasi akademik. Tetapi prestasi kehidupan. Setinggi apa dan seberapa banyak prestasi yang sudah kita ukir? Apa kita sudah berprestasi di mata Tuhan?? Apa kita sudah berprestasi dimata kedua orang tua kita? Ini yang selama ini saya renungkan.
Apa kita sudah benar-benar berprestasi dimata Tuhan? Tuhan, kekasih yang paling setia bagi umat-Nya. Tuhan pendengar yang paling baik. Tuhan pengampun yang baik. Tuhan begitu tulus mencintai kita. Tapi kita? Kita masih sering lalai. Kita masih sering malas. Selalu banyak alasan. Selalu banyak godaan yang membuat kita menjadi lalai. Ibu ku selalu bilang, "Tuhan tidak akan pernah meninggalkan mu nak. Maka, jangan sekali-kali kamu meninggalkan Tuhan". Tapi maafkan kami, Tuhan. Kami masih terlampau jauh dari-Mu. Bimbinglah kami Tuhan, agar kami senantiasa dekat dengan-Mu.
Apakah kita sudah berprestasi dimata kedua orang tua? Belum. Apa bisa di anggap berprestasi apabila kita masih kurang sopan dan kurang santun terhadap kedua orang tua kita? Apa bisa di anggap berprestasi apabila kita masih suka berbohong kepada orang tua kita? Tentu tidak. Kita masih sering mengeluh 'aduh bu/pak aku bosan. aku butuh penyegaran otak'. Coba di ingat apa pernah kedua orang tua kita mengeluh seperti itu? Sedikitpun tidak. Padahal beliau banting tulang demi anak-anaknya.
Apa kita sudah berprestasi dimata lingkungan? Bertegur sapa dengan sesama saja, jarang. Kita mungkin sering bertegur sapa, namun hanya melalui jejaring sosial. Terkadang, kecanggihan teknologi membuat kita tidak peka terhadap lingkungan. Setuju?
Inilah yang mesti kita fikirkan. Hidup bergelimang harta, hidup dengan jabatan tinggi tidak menjadikan kita berprestasi. Masih banyak prestasi yang bisa kita raih. Semoga Tuhan senantiasa mengulurkan tangan ghaib-Nya. Semoga Tuhan senantiasa memeluk kita dengan kasih-Nya.
Senin, 02 Juli 2012
Uang, Lembaga Keuangan, dan Kebijakan Moneter di
Indonesia
I. Definisi Uang
Apakah
yang di maksud dengan uang? Menurut kamus bahasa Indonesia uang (wang: alat
pembayaran yang sah, dibuat dari emas, perak, dan sebagainya. Yang di pakai
sebagai ukuran nilai, harga sesuatu, upah, gaji, harta, kekayaan).
Uang dalam ilmu ekonomi tradisional
didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima secara umum. Dalam ilmu ekonomi modern, uang didefinisikan
sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran
bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya
serta untuk pembayaran hutang. Beberapa ahli juga menyebutkan fungsi uang
sebagai alat penunda pembayaran.
II. Sejaran Uang
Pada zaman
dahulu, manusia belum mengenal pertukaran. Sehingga manusia berusaha memenuhi
kebutuhan hidupnya dengan usaha sendiri. Misalnya berburu ketika ia lapar, membuat
pakain sendiri. Atau dengan kata lain apa yang ia peroleh itulah yang
dijadikannya sebagai penopang kehidupannya. Seiring dengan perkembangan zaman,
manusia merasa bahwa apa yang ia produksi sendiri sesungguhnya tidak sepenuhnya
memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga
timbullah pemikiran untuk mencari orang lain yang dapat di ajak untuk melakukan
sebuah transaksi barang-barang yang sama-sama sedang kedua belah pihak
inginkan. Atau lebih dikenal dengan istilah barter.
Namun semakin
kesini dirasa semakin sulit untuk mendapatkan lawan barter tersebut. Manusia
semakin sulit untuk mendapatkan barang yang diinginkan. Sehingga timbullah
pemikiran untuk menggunakan benda-benda tertentu untuk digunakan sebagai alat
tukar. Benda-benda yang ditetapkan sebagai alat tukar tersebut pun dapat
diterima oleh umum (generally accepted). Misalnya adalah kerang.
Pada masa itu
manusia sudah memiliki alat tukar, namun pada kenyataannya mereka masih saja
menemui kesulitan. Kesulitannya antara lain, barang-barang yang dijadikan alat
tukar tersebut belum memiliki pecahan, sehingga sulit untuk menyimpannya dan
pengangkatannya pun menjadi sulit, sehingga timbullah kesulitan-kesulitan
lainnya yaitu tidak tahan lama.
Kemudian
muncullah ide untuk menjadikan logam sebagai alat tukar. Logam di pilih menjadi
alat tukar karena tidak mudah hancur, tidak mudah pecah, dan tahan lama. Logam
yang dapat dijadikan alat tukar adalah emas/perak. Namun semakin kesini,
manusia merasa semakin sulit mendapatkan emas atau perak. Karena persediaan
logam mulia semakin menipis. Penggunaan uang logam pun dirasa sulit untuk
transaksi dengan jumlah besar.
Sehingga pada akhirnya
diciptakanlah uang kertas. Pada mulanya uang kertas digunakan sebagai bukti
kepemilikan logam. Sehingga pada perkembangannya manusia tidak lagi menggunakan
logam, sebagai alat tukar dan menjadikan uang kertas bukti sebagai alat
transaksi.
III. Syarat Uang
Suatu benda yang
dapat dijadikan sebagai uang jika
benda tersebut berhasil memenuhi syarat-syarat tertentu. Adapun syarat-syarat
tersebut antara lain:
ü
Di terima oleh
umum (acceptability)
ü
Tahan lama
(durability)
ü
Mudah di bawa
(portable)
ü
Mudah di bagi
tanpa mengurangi nilai (divisibiality)
ü
Memiliki nilai
yang stabil dari waktu ke waktu (stability of value)
IV. Jenis Uang
Uang rupiah yang beredar di
masyarakat, dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu uang kartal dan uang
giral. Uang kartal itu sendiri adalah uang yang sah dan wajib di gunakan untuk
transaksi di masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan uang giral
adalah uang dalam bentuk simpanan (deposito). Tidak semua orang memiliki uang
jenis ini.
Menurut bahan pembuatannya
1. Uang Logam
Uang yang berbentuk logam.
Biasanya terbuat dari emas/perak. Uang logam memiliki tiga macam nilai, yaitu:
a. Nilai Intrinsik
Yaitu
nilai bahan untuk membuat uang.
b. Nilai Nominal
Yaitu
nilai yang tertera pada mata uang.
c. Nilai Tukar
Yaitu
kemampuan uang untuk ditukar dengan barang.
2.
Uang Kertas
Uang kertas adalah uang yang
terbuat dari kertas dengan gambar dan cap tertentu dan merupakan alat
pembayaran yang sah. Menurut penjelasan UU No. 23 tahun 1999 tentang Bank
Indonesia yang dimaksud dengan uang kertas adalah uang dalam bentuk lembaran
yang terbuat dari bahan kertas atau bahan lainnya (yang menyerupai kertas).
Menurut Nilainya
1. Uang Penuh
Uang dikatakan
memiliki nilai yang penuh apabila nilai yang tertera pada uang tersebut sama
nilainya dengan bahan yang digunakan. Atau dapat dikatakan nilai nominal =
nilai intrinsik.
2. Uang Tanda
Yang dimaksud
uang tanda yaitu apabila nilai yang tertera dalam uang lebih tinggi daripada
nilai bahan yang di gunakan dalam membuat uang tersebut.
Uang Dalam Ekonomi
Uang merupakan
pokok penting dalam pembelajaran ekonomi. Sedangkan Lembaga keuangan adalah
badan usaha yang mengumpulkan asset dalam bentuk dana dari masyarakat dan
disalurkan untuk pendanaan proyek pembangunan serta kegiatan ekonomi dengan
memperoleh hasil dalam bentuk bunga sebesar prosentase tertentu dari besarnya
dana yang disalurkan.Kebijakan Moneter adalah suatu usaha dalam mengendalikan
keadaan ekonomi makro agar dapat berjalan sesuai dengan yang diinginkan melalui
pengaturan jumlah uang yang beredar dalam perekonomian. Usaha tersebut
dilakukan agar terjadi kestabilan harga dan inflasi serta terjadinya
peningkatan output keseimbangan.
Pengaturan jumlah
uang yang beredar pada masyarakat diatur dengan cara menambah atau mengurangi
jumlah uang yang beredar. Kebijakan moneter dapat digolongkan menjadi dua,
yaitu :
1. Kebijakan
Moneter Ekspansif / Monetary Expansive Policy
Adalah suatu
kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang beredar.
2. Kebijakan
Moneter Kontraktif / Monetary Contractive Policy
Adalah suatu
kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang edar. Disebut juga dengan
kebijakan uang ketat (tight money policy).
Kebijakan moneter
dapat dilakukan dengan menjalankan instrumen kebijakan moneter, yaitu antara
lain :
1.
Operasi Pasar
Terbuka (Open Market Operation)
Operasi
pasar terbuka adalah cara mengendalikan uang yang beredar dengan menjual atau
membeli surat
berharga pemerintah (government securities).
2.
Fasilitas
Diskonto (Discount Rate)
Fasilitas
diskonto adalah pengaturan jumlah duit yang beredar dengan memainkan tingkat
bunga bank sentral pada bank umum.
3.
Rasio Cadangan
Wajib (Reserve Requirement Ratio)
Rasio
cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan memainkan jumlah
dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah.
4.
Himbauan Moral
(Moral Persuasion)
Himbauan
moral adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan jalan
memberi imbauan kepada pelaku ekonomi.
Dan dalam
perkembangannya terjadilah suatu krisis yang disebut dengan krisis moneter.
Krisis moneter ini sendiri memiliki dampak atau efek yang sangat besar bagi
stabilitas perekonomian suatu Negara. Salah satu dampak krisis moneter adalah
turunnya nilai mata uang. Sehingga masyarakat lebih memilih untuk melakukan
barter sebagai cara transaksi. Hal ini pun pernah terjadi di Rusia, pada saat
keruntuhan Uni Soviet.
Sumber:
Kamis, 03 Mei 2012
PEMBANGUNAN EKONOMI DI INDONESIA
Pembangunan ekonomi adalah
suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita dengan
memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai dengan perubahan fundamental
dalam struktur ekonomi suatu negara dan pemerataan pendapatan bagi penduduk
suatu negara.
Pembangunan ekonomi tak
dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi (economic growth); pembangunan
ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya, pertumbuhan ekonomi
memperlancar proses pembangunan ekonomi.
Yang dimaksud dengan
pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan kapasitas produksi suatu
perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional.
Suatu negara dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi apabila terjadi
peningkatan GNP riil
di negara tersebut. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan
pembangunan ekonomi.
Perbedaan antara keduanya
adalah pertumbuhan ekonomi keberhasilannya lebih bersifat kuantitatif, yaitu
adanya kenaikan dalam standar pendapatan dan tingkat output produksi yang
dihasilkan, sedangkan pembangunan ekonomi lebih bersifat kualitatif, bukan
hanya pertambahan produksi, tetapi juga terdapat perubahan-perubahan dalam
struktur produksi dan alokasi input pada berbagai sektor perekonomian seperti
dalam lembaga, pengetahuan, sosial dan teknik.
Selanjutnya pembangunan
ekonomi diartikan sebagai suatu proses yang menyebabkan pendapatan perkapita
penduduk meningkat dalam jangka panjang. Di sini terdapat tiga elemen penting
yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi, yaitu:
·
Pembangunan sebagai suatu proses
·
Pembangunan sebagai suatu usaha untuk
meningkatkan pendapatan perkapita
·
Peningkatan pendapatan perkapita harus
berlangsung dalam jangka panjang
Ada beberapa faktor yang
memengaruhi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi, namun pada hakikatnya
faktor-faktor tersebut dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu faktor ekonomi dan
faktor non ekonomi.
Faktor ekonomi yang
memengaruhi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi diantaranya adalah sumber daya
alam, sumber daya manusia, sumber daya modal, dan keahlian atau kewirausahaan.
Faktor nonekonomi mencakup
kondisi sosial
kultur yang ada di masyarakat, keadaan politik, kelembagaan, dan sistem yang berkembang dan
berlaku.
Perbedaan
Pertumbuhan Ekonomi dan Pembangunan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi
·
Merupakan proses naiknya produk per kapita
dalam jangka panjang.
·
Tidak memperhatikan pemerataan pendapatan.
·
Tidak memperhatikan pertambahan penduduk
·
Belum tentu dapat meningkatkan taraf hidup
masyarakat.
·
Pertumbuhan ekonomi belum tentu disertai
dengan pembangunan ekonomi
·
Setiap input dapat menghasilkan output yang
lebih banyak
Pembangunan ekonomi
·
Merupakan proses perubahan yang terus menerus
menuju perbaikan termasuk usaha meningkatkan produk per kapita.
·
Memperhatikan pemerataan pendapatan termasuk
pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya.
·
Memperhatikan pertambahan penduduk.
·
Meningkatkan taraf hidup masyarakat.
·
Pembangunan ekonomi selalu dibarengi dengan
pertumbuhan ekonomi.
·
Setiap input selain menghasilkan output yang
lebih banyak juga terjadi perubahan – perubahan kelembagaan dan pengetahuan
teknik.
Menurut saya, semakin tahun
tingkat pendapatan perkapita di Indonesia semakin meningkat. Hal itu di dukung
dengan kualitas sumber daya manusia yang lebih baik dari tahun ke tahun. Di
dukung pula oleh perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia. Yang mana sekarang
telah di adakan program BOS (Biaya Operasional Sekolah), yang mana ini secara
tidak langsung telah membantu masyarakat dari kalangan tidak mampu untuk
melanjutkan jenjang pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Selain itu grafik
tingkat kelulusan di Indonesia pun semakin berkembang keatas.
Dengan terciptanya
masyarakat yang cerdas , maka akan tercipta pula banyak lapangan pekerjaan.
Sekarang – sekarang ini pun banyak sekali masyarakat yang memanfaatkan skill
nya untuk mengolah limbah menjadi barang berguna. Dan dengan adanya skill
tersebut, maka Industri rumahan (home industry) telah menjamur di Indonesia. Sisi
positif dari industri rumahan ini, adalah terciptanya lapangan pekerjaan baru.
Dan jelas ini telah membantu mengembangkan ekonomi di Indonesia.
Ketika bapak SBY menjabat
sebagai presiden, pada tahun 2004 pertumbuhan ekonomi meningkat pesat menjadi 5.1
%. Dan pada tahun 2008 di proyeksikan sebesar 6.4%. cadangan devisa yang semula
33.8 milyar dolar AS, pada tahun 2008 meningkat menjadi 69.1%.
Tingkat kemiskinan pun
berkurang. Pada tahun 1998 angka kemiskinan mencapai 24.2%. namun pada masa jabatan
Bapak SBY tingkat kemiskinan menurun menjadi 16.7%
Hutang kepada Dana Moneter
Internasional (IMF) juga dipangkas habis pada masa jabatan SBY. Pada tahun 1998
hutang Negara kepada IMF sebesar 9.1 milyar dolar AS. Dan pada tahun 2006,
presiden SBY berhasil melunasi hutang Negara sebesar 7.8 milyar dolar AS.
Maka, dapat disimpulkan
bahwa tingkat pembangunan ekonomi di Indonesia telah mengalami kemajuan yang
signifikan tiap tahunnya. Berikut ini adalah data mengenai laju pembangunan Indonesia
selama 10 tahun terakhir.
Senin, 30 April 2012
IRONI PENDIDIKAN DI INDONESIA
Apabila kita amati
pendidikan di Indonesia, maka kita akan tercengang. Mengapa demikian? Hal itu
disebabkan karena buruknya kualitas pendidikan di Indonesia. Contoh kecil, bisa
kita lihat perbedaan yang mencolok antara kualitas pendidikan di pedesaan
dengan kualitas pendidikan di perkotaan.
Pendidikan di pedesaan
cendurung masih rendah kualitasnya. Hal itu bisa tercermin pada minimnya sarana
dan prasarana. Seperti, bangunan sekolah yang sudah rapuh dan tak layak huni,
minimnya ketersediaan bangku dan masih banyak lagi. Selain itu masih banyak
pula sekolah yang status kepemilikannya belum diakui.
Sementara di perkotaan,
fasiltas pendidikan sudah tergolong lebih baik dari pada di pedesaan. Sebagian
besar sekolah yang ada di perkotaan, sudah memiliki bangunan sendiri yang layak
untuk ditempati, sudah memiliki fasilitas pendidikan yang memadai.
Kualitas pendidikan di
Indonesia amat memperhatikan, ini dapat dilihat dari data UNESCO (2000) tentang
peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu
komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per
kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin
menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102
(1996), ke-99 (1997), ke- 105 (1998), dan ke-109 (1999).
Menurut survei Political and
Economic Risk Consultant (PERC),
kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12
dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data
yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia
(2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya
menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut
survei dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai
follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia.Memasuki abad
ke- 21 dunia pendidikan di Indonesiamenjadi heboh. Kehebohan
tersebut bukan disebabkan oleh kehebatan mutu pendidikan nasional
tetapi lebih banyak disebabkan karena kesadaran akan bahaya
keterbelakangan pendidikan diIndonesia. Permasalahan ini disebabkan
karena beberapa hal yang mendasar. Salah satunya adalah memasuki abad ke- 21
gelombang globalisasi dirasakan kuat dan terbuka.
Kendatipun pemerimtah telah
mengotiamlkan anggaran pendidikan, namun masih banyak sekali PR yang mesti
pemerintah kerjakan. Karena anggaran tersebut dirasa masih kurang untuk
memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Hal itu dapat kita lihat dari
permasalahan-permasalahan yang terjadi pada pendidikan di Indonesia, seperti
1. Rendahnya Kualitas Sarana Fisik
Seperti yang telah diuraikan
diatas, banyak sekali sekolah sekolah di Indonesia yang masih tergolong buruk. Masih
banyak bangunan yang tidak layak pakai. Bahkan dibeberapa sekolah mesti rela belajar
tanpa atap atau tanpa bangku. Banyak pula sekolah yang belum memiliki
perpustakaan. Selain itu, untuk beberapa daerah, masih sedikit jumlah sekolah
yang tersedia. Sehingga mereka (siswa) mesti rela untuk berjalan berkilo-kilo
meter.
Data Balitbang Depdiknas
(2003) menyebutkan untuk satuan SD terdapat 146.052 lembaga yang menampung
25.918.898 siswa serta memiliki 865.258 ruang kelas. Dari seluruh ruang kelas
tersebut sebanyak 364.440 atau 42,12% berkondisi baik, 299.581 atau 34,62%
mengalami kerusakan ringan dan sebanyak 201.237 atau 23,26% mengalami kerusakan
berat. Kalau kondisi MI diperhitungkan angka kerusakannya lebih tinggi karena
kondisi MI lebih buruk daripada SD pada umumnya. Keadaan ini juga terjadi di
SMP, MTS, SMA, MA, dan SMK meskipun dengan persentase yang tidak sama.
2. Rendahnya Kualitas Pengajar
Kualitas pengajar yang
rendah juga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas
pendidikan di Indonesia. Masih banyak sekali pengajar yang statusnya masih
sebagai pengajar honorer. Hal ini mungkin menjadi salah satu alasan pengajar
tersebut menjadi enggan untuk mengajar.
Bukan itu saja, sebagian
guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar. Persentase guru
menurut kelayakan mengajar dalam tahun 2002-2003 di berbagai satuan pendidikan
sbb: untuk SD yang layak mengajar hanya 21,07% (negeri) dan 28,94% (swasta),
untuk SMP 54,12% (negeri) dan 60,99% (swasta), untuk SMA 65,29% (negeri) dan
64,73% (swasta), serta untuk SMK yang layak mengajar 55,49% (negeri) dan 58,26%
(swasta).
3. Rendahnya Prestasi Siswa
Di sisi lain, minat belajar
siswa pun semakin menurun. Banyak diantara mereka yang belajar hanya jika akan
ujian. Menyontek pun sudah menjadi budaya di Indonesia. Hal ini menjadi
penyebab siswa menjadi malas belajar.
Kecanggihan teknologi pun
membawa dampak buruk. Seperti, terciptanya game online. Sebagian dari anak-anak
Indonesia lebih memilih untuk menghabiskan waktu untuk bermain game-online dari
pada belajar.
Menurut Trends in Mathematic
and Science Study (TIMSS) 2003 (2004), siswa Indonesia hanya berada di ranking
ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44
negara dalam hal prestasi sains. Dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di
bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.
4. Mahalnya Biaya Pendidikan
Sekalipun pemerintah telah
mengalokasikan beberapa persen APN untuk
biaya pendidikan, namun namun hal tersebut masih belum bisa menyelesaikan
masalah pendidikan di Indonesia. Masih banyak rakyat Indonesia yang menganggap
biaya pendidikan di negeri kita masih tergolong mahal.
Sehingga masih banyak
masyarakat yang tidak mengenyam pendidikan secara layak. Tingkat buta huruf pun
masih tergolong banyak. Hal ini tentu
menjadi pr kita semua. Bagaimana caranya supaya seluruh warga Indonesia dapat
mengenyam pendidikan wajib 9 tahun. Atau bahkan hingga ke Perguruan Tinggi.
Biaya pendidikan yang
terjangkau menjadi salah satu faktor yang dapat memajukan kualitas pendidikan
di Indonesia. Karena dengan biaya yang terjangkau, tingkat masyarakat yang
berpendidikan pun akan meningkat pula. Sehingga dengan demikian masyarakat
Indonesia dapat berkembang menjadi masyarakat yang cerdas, yang dapat memajukan
kesejahteraannya sendiri, juga kesejahteraan masyarakat luas.
Persentase
Kelulusan
Angka kelulusan ujian
nasional (UN) di Nusa Tenggara Timur (NTT) masih paling rendah di Indonesia.
Untuk tingkat SMA/MA, NTT menempati peringkat pertama untuk jumlah
ketidaklulusan siswa, yaitu 1.813 (5,57%) dari total peserta 32.532. Di tingkat
SMK, NTT menempati peringkat keempat angka ketidaklulusan siswa, yaitu 450
(3,56%) dari total peserta 12.624.
Secara nasional, total siswa yang tidak lulus dalam UN 2011 mencapai 16.098, sedangkan siswa yang lulus 1.450.498. Jumlah ketidaklulusan siswa itu terdiri dari siswa SMA/MA sebanyak 11.443 (0,78%) dan siswa SMK 4.655 (0,49%). UN kali ini diikuti 1.461.941 peserta SMA/MA dari 16.835 sekolah, dan 942.698 peserta SMK dari 8.074 sekolah.
Angka ketidaklulusan UN
SMA/MA juga cukup tinggi terjadi di Bangka Belitung, yaitu 250 (4,14%) dari
6.035 peserta, Kalimantan Tengah 595 (4%) dari 14.880 peserta, Papua 430
(3,28%) dari 13.090 peserta, dan Aceh 1.701 (3,19%) dari 53.387 peserta. Untuk
DKI Jakarta angka ketidaklulusan mencapai 271 (0,48%) dari 55.938 peserta.
Solusi
dari permasalahan pendidikan di Indonesia
Menurut pendapat saya,
solusi utama dari permasalahan pendidikan di Indonesia adalah dari diri kita
sendiri. Karena belajar tidak harus berada di dalam ruangan. Setiap waktu
adalah belajar. Masyarakat Indonesia, mesti berkembang menjadi masyarakat yang
cerdas. Memperbanyak membaca, atau memperbanyak menggali informasi dapat
menjadikan kita orang yang cerdas dengan sendirinya.
Kemudian, hal lain yang
dapat menjadi solusi pendidikan di Indonesia adalah dengan di tambahnya alokasi
dana untuk pendidikan. Karena dengan begitu, kita dapat memperbaiki sarana dan
prasarana sekolah-sekolah di Indonesia. Pemerintah pun dapat menyejahterakan
guru-guru di Indonesia. Kemudian
pemerintah perlu meningkatkan standarisasi kelulusan. Dengan begitu siswa
menjadi terpacu untuk belajar sungguh-sungguh. Demikan solusi menurut pandangan
saya. Semoga bermanfaat untuk pembaca.
Sumber :
http://skyrider27.blogspot.com/2009/11/pendidikan-di-indonesia.html
Sabtu, 21 April 2012
PENDAPATAN NASIONAL
Pendapatan
nasional dapat dilihat dengan tiga pendekatan, yaitu pendekatan nilai produksi,
pendekatan pengeluaran, dan pendekatan pendapatan. Ketiga pendekatan itu akan
menghasilkan jumlah pendapatan nasional yang sama besar. Karena ada tiga macam
pendekatan dalam melihat pendapatan nasional, maka pendapatan nasional memiliki
tiga arti.
Jadi, Pendapatan Nasional adalah :
1.
Nilai semua barang dan jasa (output) yang dihasilkan suatu negara selama satu
tahun.
2.
Jumlah semua pengeluaran yang terjadi pada suatu negara untuk membeli barang
dan jasa selama satu tahun.
3.
Jumlah semua pendapatan yang diterima pemilik faktor produksi sebagai balas
jasa penggunaan faktor-faktor produksi pada suatu negara selama satu tahun.
Macam-Macam Pendapatan Nasional
Pendapatan nasional
dapat digolongkan menjadi :
1. Produk Domestik Bruto
Produk
Domestik Bruto disebut juga dengan istilah Gross Domestic Product
(GDP). Produk Domestik Bruto adalah jumlah nilai barang dan jasa
yang dihasilkan seluruh masyarakat di suatu negara selama satu tahun, termasuk
barang dan jasa yang dihasilkan warga negara asing yang ada di wilayah negara
tersebut. Sementara itu, barang dan jasa yang dihasilkan perusahaan atau warga
negara tersebut yang berada di luar negeri tidak dihitung ke dalam Produk
Domestik Bruto.
Jadi,
Produk Domestik Bruto hanya menunjukkan jumlah barang dan jasa yang diproduksi
di dalam wilayah suatu negara. Produk Domestik Bruto masih disebut bruto
(kotor) karena belum dikurangi dengan penyusutan.
2. Produk Nasional Bruto
Produk
Nasional Bruto disebut juga dengan istilah Gross National Product
(GNP). Produk Nasional Bruto adalah jumlah nilai barang dan jasa yang
dihasilkan masyarakat suatu negara selama satu tahun, termasuk barang dan jasa
yang dihasilkan masyarakat negara tersebut yang berada di Negara lain.
Sedangkan
barang dan jasa yang dihasilkan warga negara asing yang berada di wilayah
negara tersebut tidak dihitung ke dalam Produk Nasional Bruto.
Produk Nasional Bruto
atau GNP dapat juga dihitung dengan rumus sebagai berikut:
GNP
= GDP + Pendapatan Faktor Neto dari Luar Negeri
3. Produk Nasional Neto
Produk
Nasional Neto disebut juga dengan istilah Net National Product (NNP).
Produk Nasional Neto adalah jumlah nilai barang dan jasa yang diperoleh dengan
cara mengurangi GNP dengan penyusutan (depresiasi).
Produk Nasional Neto dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :
NNP
= GNP – Penyusutan
4.
Pendapatan Nasional Neto
Pendapatan
Nasional Neto disebut juga dengan istilah Net National Income (NNI). Pendapatan
Nasional Neto adalah jumlah seluruh pendapatan yang diterima masyarakat sebagai
balas jasa faktor produksi selama satu tahun setelah dikurangi pajak tidak
langsung (indirect tax).
Besarnya Pendapatan Nasional Neto (NNI) diperoleh dari NNP dikurangi pajak tidak langsung yang dirumuskan sebagai berikut:
NNI
= NNP - Pajak tidak langsung
5. Pendapatan Perseorangan
Pendapatan
perseorangan disebut juga dengan istilah Personal Income (PI). Pendapatan
Perseorangan adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap orang dalam
masyarakat.
Tidak
semua Pendapatan Nasional Neto atau Net National Income (NNI) akan sampai ke
tangan setiap orang dalam masyarakat. Akan tetapi, NNI harus dikurangi dulu
oleh iuran asuransi, iuran jaminan sosial, laba ditahan, pajak perseorangan dan
ditambah dengan transferpayment (pembayaran pindahan).
Dengan demikian, pendapatan perseorangan (PI) dapat dirumuskan sebagai berikut:
PI
= NNI - (Iuran asuransi, iuran jaminan sosial, laba ditahan, pajak
perseorangan) + Transfer Payment
6. Pendapatan Bebas
Pendapatan
bebas disebut juga Disposible Income (DI). Pendapatan
Bebas adalah pendapatan yang sudah menjadi hak mutlak bagi penerimanya. Jadi,
pendapatan bebas adalah pendapatan yang sudah siap untuk dibelanjakan.
Pendapatan bebas diperoleh dengan cara mengurangi PI dengan pajak langsung.
DI
= PI - Pajak Langsung.
Adapun
cara perhitungan pendapatan nasional, yaitu:
a. Metode Produksi
Pendapatan nasional merupakan penjumlahan dari
seluruh nilai barang dan jasa yang dihasilkan oleh seluruh sector ekonomi
masyarakat dalam periode tertentu.
Menjumlahkan
nilai produksi yang dihasilkan oleh sector-2 produksi. Menjumlahkan nilai
tambah (VA) dari masing-masing sector produksi. Metode ini pertama kali
diperkenalkan oleh Simon Kuznet dan ia mendapat nobel karenanya.
Y
= [(Q1 X P1) + (Q2 X P2) + (Qn X Pn) ……]
Contoh perhitungan:
Satu sector harga Rp.100 produksi sebanyak 10,
sector 2 Rp. 400 produksi, sector 3 Rp. 500 produksi 10. Maka:
Y = (100*10) + (400*5) + (500*10) = 1000 +
2000 + 5000 = 8000
b. Metode Pendapatan
Pendapatan nasional merupakan hasil
penjumlahan dari seluruh penerimaan (rent,
wage, interest, profit) yang diterima oleh pemilik factor produksi adalam
suatu negara selama satu periode.
Menjumlahkan semua pendapatan dari faktor-faktor
produksi (TK, modal, tanah, dan skill), bila TK menghasilkan upah = w, modal
menghasilkan bunga = i, tanah menghasilkan sewa = r, dan skill menghasilkan
profit = p, maka NI=ss
Y
= r + w + i + p
c. Metode Pengeluaran
Pendapatan nasional merupakan penjumlahan dari
seluruh pengeluaran yang dilakukan oleh seluruh rumah tangga ekonomi
(RTK,RTP,RTG,RT Luar Negeri) dalam suatu Negara selama satu tahun.
Y
= C + I + G + (X – M)
SUMBER:
Langganan:
Postingan (Atom)














